Hero section image background

Legok Nangka Bakal Dibangun Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik

Kamis, 30 Juli 2026

Infrastruktur

77

Postingan ini dilihat

0

Postingan ini dibagikan

Poster post Legok Nangka Bakal Dibangun Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik

KABUPATEN BANDUNG,- Pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka resmi dimulai. Hal itu ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembanguannya pada Rabu (29/7/2026). 

PSEL Legok Nangka dirancang menjadi salah satu fasilitas pengolahan sampah regional terbesar di Indonesia dengan kapasitas pengolahan mencapai 2.131 ton sampah per hari. 

Sampah yang berasal dari enam daerah, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang, akan diolah menjadi energi listrik dengan kapasitas pembangkit sebesar 40,79 megawatt (MW).

Kegiatan yang dirangkaikan dengan Penandatanganan Kerja Sama Pengembangan Waste to Energy tersebut dihadiri oleh  Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono, serta jajaran pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan.

Groundbreaking ini menandai upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam membangun sistem pengelolaan sampah regional yang modern dan berkelanjutan. Selain mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA), proyek ini juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengelolaan sampah sekaligus memanfaatkan sampah sebagai sumber energi baru yang ramah lingkungan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, pembangunan PSEL Legok Nangka bukan hanya menjadi solusi atas persoalan sampah, tetapi juga bagian dari upaya membangun budaya masyarakat yang lebih tertib dalam mengelola lingkungan.

"Melalui langkah ini, Jawa Barat akan menjadi provinsi penghasil energi listrik terbesar di Indonesia," ujar Dedi Mulyadi.

Menurutnya, potensi tersebut didukung oleh berbagai sumber energi yang dimiliki Jawa Barat, mulai dari pembangkit listrik tenaga air melalui bendungan, tenaga surya, panas bumi (geotermal), hingga pembangkit listrik berbasis sampah yang akan terus dikembangkan di sejumlah wilayah.

Ia menambahkan, setelah kawasan Bandung Raya, Bogor, Depok, Bekasi, dan Kabupaten Bekasi, pengembangan pembangkit listrik berbasis sampah juga akan didorong di wilayah Cirebon dan sekitarnya yang memiliki tantangan serupa dalam pengelolaan sampah.

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa pembangunan PSEL Legok Nangka melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan nilai investasi mencapai Rp7,2 triliun diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang terhadap persoalan sampah di kawasan perkotaan sekaligus mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan.

Proyek ini dikerjakan oleh PT Jabar Environmental Solution, perusahaan patungan yang dibentuk oleh Sumitomo Corporation, Hitachi Zosen (Hitz), dan PT Energia Prima Nusantara.

Masa konstruksi PSEL Legok Nangka ditargetkan berlangsung selama 41 bulan dengan target mulai beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada tahun 2029. Selama proses pembangunan, proyek ini diperkirakan akan menyerap sekitar 1.565 tenaga kerja.

Selain seremoni peletakan batu pertama, pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kerja sama pengembangan Waste to Energy Jawa Barat sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat sinergi pengelolaan sampah berbasis teknologi. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong terciptanya sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, meningkatkan kualitas lingkungan, serta memperkuat transisi menuju pembangunan berkelanjutan di Jawa Barat.

Penulis: Adi Permana

Tags

  • sampah