
KARAWANG,- Bendung Walahar merupakan salah satu infrastruktur sumber daya air bersejarah yang hingga kini masih berperan penting dalam mendukung sektor pertanian di Jawa Barat. Bendung yang terletak di Kabupaten Karawang ini dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1918 dan difungsikan 30 November 1925 sebagai bagian dari sistem pengelolaan Sungai Citarum.

Terletak di Desa Walahar, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, bangunan ini melintang di Sungai Citarum dengan lebar 50 meter dan kolam penampung seluas 15 hektar.
Pengelolaan Bendung Walahar kini berada di Bawah Perum Jasa Tirta II.
Mengutip data sda.pu.go.id, hingga saat ini bending ini menyuplai air untuk mengairi sekitar 87.396 hectare lahan persawahan di daerah Karawang.
Sejak awal pembangunannya, Bendung Walahar dirancang untuk mengatur aliran air Sungai Citarum guna memenuhi kebutuhan irigasi pertanian. Keberadaan bendung ini menjadi faktor penting dalam perkembangan kawasan Karawang sebagai daerah lumbung padi, sekaligus menunjukkan kemajuan teknologi konstruksi pada masanya. Hingga kini, struktur bangunan bendung masih berdiri kokoh dan terus dimanfaatkan.
Saat ini, Bendung Walahar tetap menjalankan fungsi strategis sebagai pengatur distribusi air irigasi ke ribuan hektare lahan pertanian di Karawang dan wilayah sekitarnya. Selain itu, bendung ini juga berperan dalam pengendalian muka air sungai, khususnya saat debit Sungai Citarum meningkat pada musim hujan, sehingga membantu meminimalkan risiko banjir.
Tidak hanya berfungsi secara teknis, Bendung Walahar juga memiliki nilai historis dan sosial. Kawasan bendung kini dikenal sebagai ruang publik dan destinasi wisata lokal yang merekam perjalanan panjang pengelolaan sumber daya air di Jawa Barat. Dengan peran ganda sebagai infrastruktur vital dan warisan sejarah, Bendung Walahar terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat hingga saat ini.
*Dikuti dari berbagai sumber
Penulis: Adi Permana



